PEKANBARU || Keberhasilan Aprianto, S.H., melewati Ujian Profesi Advokat (UPA) 2026 menjadi babak baru bagi Ketua DPD PWMOI Pekanbaru ini dalam memperjuangkan keadilan.
Kabar baik menyelimuti keluarga besar Persatuan Wartawan Media Online Indonesia (PWMOI) Provinsi Riau. Aprianto, sosok yang selama ini dikenal vokal memimpin DPD PWMOI Kota Pekanbaru, resmi dinyatakan lulus dalam Ujian Profesi Advokat (UPA) tahun 2026. Keputusan ini tertuang dalam Surat Keputusan Panitia UPA Nomor: KEP.003/PUPA-PERADI/VIII/2026 yang digelar di bawah naungan Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PERADI pimpinan Prof. Dr. Otto Hasibuan, S.H., M.M.
Ketua DPW PWMOI Riau, H. Rio Kasairy, S.Sos., mengatakan, pencapaian ini bukan sekadar prestasi akademik atau formalitas profesi, melainkan amunisi baru bagi organisasi. Ia melihat potensi besar di pundak Aprianto untuk menjadi ‘perisai’ bagi para jurnalis yang kerap bersinggungan dengan persoalan hukum saat menjalankan tugas profesinya di lapangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Selamat untuk Ketua PWMOI Pekanbaru Bung Aprianto, semoga profesinya bermanfaat untuk masyarakat. Jangan pernah lelah untuk terus berbuat kepada masyarakat,” ujar Rio Kasairy, kepada media, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Rio menekankan bahwa kontribusi nyata berupa bantuan hukum gratis bagi pengurus dan wartawan PWMOI adalah harapan besar yang kini dititipkan kepada Aprianto.
Aprianto sendiri bukan orang baru dalam dunia pergerakan sosial di Pekanbaru. Meski tengah berjibaku merampungkan pendidikan Pascasarjana (S2) di Universitas Islam Riau (UIR), politisi Partai Nasdem ini tetap konsisten turun ke akar rumput. Namanya harum sebagai inisiator layanan ambulans gratis 100% yang telah banyak membantu warga kurang mampu di Pekanbaru.
Kehadiran Aprianto di dunia advokat diprediksi akan membawa warna baru. Dengan latar belakangnya sebagai aktivis media dan politisi, ia memiliki perspektif yang luas dalam melihat ketimpangan hukum. Fokusnya pada bantuan hukum gratis bagi masyarakat kecil dan rekan sejawat jurnalis menjadi bukti bahwa gelar baru ini adalah alat perjuangan, bukan sekadar pajangan di balik meja kerja.














